Labels

JUMLAH PENGUNJUNG

Flag Counter
Monday, February 27, 2017

Ada Apa dengan Malang Vs Semarang ? (shocking culture)


foto di ambil dari www.kampusundip.com
            Genap dua minggu sudah saya menjalani kegiatan study lanjut saya di Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang ini. Ada beberapa hal yang berbeda antara di Malang saat saya 4 tehun disana untuk menempuh Program Sarjana dengan di semarang ini.
         Pertama, Saya belum pernah ketemu orang madura sama sekali (masih kemungkinan ketemu hari-hari berikutnya). Cukup aneh sekali padahal biasanya dimana mana banyak orang madura, entah itu yang hanya berdagang kecil-kecilan sampai yang belajar. Tetapi disamarang ini hampir tidak ada orang madura. Biasaya kalo mau nyari makan tengah malam tinggal nyari nasi goreng di pinggir-pinggir jalan banyak sekali orang madura yang jualan, tapi tiap malam cukup sulit nyari nasi goreng tengah malam.
Kedua, kalau dibanding dengan Malang, memang sangat jauh (lebih mahal) harga-harga komoditas disini. Hampir semua serba mahal (perspektif mahasiswa). Karena kampus Pasca ada di pusat kota mungkin hal tersebut yang mempengaruhi kondisi tingkat harga komoditas disini. Katanya kalau di kampus atas (pusat) harganya disana lebih murah, tapi yah masih katanya. Karena semua terfokus disana akhirnya kampus lama yang hanya dipakai oleh mahasiswa Pascasarjana akhirnya cukup terlantar (curhat :D).
Ketiga, Warung kopi langka banget. Ini yang paling krusial, padahal itu tempat tongkrongan paling penting bagi kita-kita. Biasanya kalo waktu di malang dari tempat tinggal kita mau ke kanan atau ke kiri pasti kita menemukan banyak warung kopi dengan fasislitas wifi dengan harga terjangkau (ukuran mahasiswa). Tetapi disni nyari warung seperti itu sangatlah sulit, hampir semua disini untuk menemukan warung kopi yang ada wifi sudah dengan harga cafe (cukup mahal). Selama beberapa hari keliling sekitar kampus hanya satu yang paling recomended (antara keterjangkauan harga dan fasilitas). Meskipun sebenarnya wifi mereka bukan dari fasilitas mereka sendiri (nimbrung punya pemkot) tapi cukuplah bagi kita yang terpenting harga terjangkau dan ada wifi buat sekali-kali ngerjakan tugas, lainya main :D.
Empat, kebanyakan disini orang tionghoa (cina), jadi ketemunya orang-rang yang kulitnya putih dan matanya sipit. Biasanya kalo dimalang ketemu orang-orang tionghoa kalau ndak di pasar sebagai pemilik toko ya mereka-mereka yang kelas menengah. Kalau di Semarang ketemunya mereka mulai dari kelas bawah sampai yang kelas atas. Kadang juga ketemu temen matanya sipit bukan karena orang tionghoa tapi karena kebanyakan tidur hehe.
Lima, banyak non-muslim juga, karena saya seringnya waktu dimalang ketemu hampir 95% orang muslim, agak kaget juga disni karena hampir 45% nya (kira-kira sendiri) non-muslim. Jadi harus juga jaga sikap dan menjunjung tinggi penerapan kesetaran (kyk tugas materi MSDM ) serta rasa toleransi antar sesama. Selain itu saya juga saya harus hati-hati kalau makan, karena sebagai muslim saya wajib memperhatikan khalal haramnya suatu makanan juga.
Terahir, etc, “etc” itu bukan etcetera (bahasa inggris) yang artinya dan lain sebagainya. Kalo bercandanya dosen saya itu kepanjangan dari end of thinking capacity yang artinya “mentok” (bahasa saya). Jadi ini ceritanya tulisan pertama setelah sekian lama tak pernah nulis di blog ini sekalian buat belajar nulis lagi. thanks      

0 comments: