Labels

JUMLAH PENGUNJUNG

Flag Counter
Friday, August 25, 2017

Ngapain Aja Kamu Selama ini?

Entah waktu umur berapa saat itu, aku masih mengingat dengan jelas suasana tempat saya dilahirkan, disana saat itu tiap gelap malam hanya dilah –lampu yang terbuat dari botol bekas minuman dengan di isi minyak tanah- yang menerangi gelap malam saat itu. Jalan masih berupa tanah yang ketika hujan akan membuat berabagai macam kendaraan kesulitan melewatinya. Saat itu setiap malam mushola-mushola kecil ramai penuh dengan majlis-majlis pengajian mulai dari belajar membca Al-Quran samapai dengan belajar memahami bahasa arab agara mampu memahami makna Al-Quran secara baik dan benar.
Pendidikan formalku pertama pada tahun 1997 adalah Madrasah Ibtidaiyah (MI), dimana saat itu masih jamanya orde baru, yang punya TV pun masih jarang. TV saat itu hanya menayangkan satu stasiun yakni yang sampai saat ini masih ada, TVRI, meskipun kurang populer. Saat itu pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) belum ada. Sampai-sampai kalo saat ini tak bisa menyanyi ataupun tak mampu mengikuti irama lagu, alasan sederhanaku karena tak pernah sekolah TK, padahal sebenarnya bisa jadi benar, hehehe
Masa itu hanya sebentar setelah Orde Baru jatuh pada tahun 1998, pelan-pelan berbagai teknologi mulai masuk, mulai dari TV berwarna, pemutar CD/DVD dan video game. Meskipun sudah masuk hanya segelintir orang yang punya. Salah satu dari yang punya adalah bukan aku tetapi temanku. Aku hanya bisa menikmati hiburan tersebut saat aku di ajaknya. Hiburan utamaku dengan teman-teman yang lainya saat itu adalah menggembala kambing di jalan-jalan samping kebun, atau ke hutan yang tidak begitu lebat sambil melihat-lihat ke atas pohon untuk mencari sarang burung. Hobiku saat itu adalah merawat burung –saat itu kebanyakan burung cendet-. Tetapi tak satupun dari burung yang aku rawat berhasil hidup sampai menghasilkan suara indah yang siap di jual. Tapi tak ada rasa bosan saat itu untuk mencari kembali sarang burung lagi untuk di ambil dan di rawat anaknya. Kadang sampai yang masih hanya telur terus di pantau untuk melihat perkembanganya sampai anak-anak burung tersebut siap untuk di ambil dan di rawat.
Pada 2004 jalan-jalan yang dulunya hanya tanah liat saat itu sudah mulai berubah menjadi jalan berbatu, karena pada saat itu banyak orang-orang asing masuk desaku untuk mencari lumbung minyak dan gas bumi yang saat itu katanya telah di petakan oleh penguasa jaman Orde Baru. Mungkinlah akan berbeda ceritanya percepatan pembangunan desaku saat itu apabila tak ada harta karun disitu. Pada tahun tersebut pula aku sudah sekolah pada jenjang Madrasah tsanawiyah (MTs). Pada masa itu teknologi komunikasi mulai masuk berupa handphone. Saat itu ayahku memiliki handphone pertamanya dengan merek Siemens yang entah kemana sekarang perusahaan merek tersebut. Saat itu hampir semua rumah telah memiliki TV, dulu mushola-mushola yang ramai semakin sepi, hanya beberapa dari keluarga-keluarga dekat pengelola mushola saja yang mau mengaji. Entah karena teknologi yang mulai masuk menjadikan sepi atau faktor lain, yang jelas itulah masa-masa dimana berbagai fasilitas sudah meluai sedikit demi sedikit memanjakan orang untuk tetap di rumah.
Pada tahun 2007 perkembangan eksplorasi minyak bumi sudah mulai ramai, berbagai mesin-mesin besar di datangkan, jalan-jalan diperlebar untuk memudahkan alat-alat berat yang besar bisa masuk. Saat itupula  aku mulai masuk pendidikan Madrsah Aliyah (MA). Sekolahku yang ketiga ini, pertama kali aku meninggalkan tempat kelahirkanku untuk belajar pendidikan formal sekaligus belajar agama di pondok pesantren di Tuban. Meskipun awalanya merasa tidak kerasaan lambut laun betah juga. Disana awal aku mulai bertemu dengan teman-teman dari berbagai daerah. Banyak pengalaman yang bisa di ambil disana, mulai kedisiplinan, sopan santun, maupun persahabatan dan sebagainya.
Hanya tiga tahun disana, pada tahun 2010 aku memutusakan untuk mecari pengalaman dan pembelajaran baru. Saat itu kuliah masih belum menjadi pilihan pertama karena masih terasa takut dan khawatir tak mampu orang tuaku membiayainnya, apalagi tak mau aku belajar hanya di tempat kelahiranku, saya bersi kukuh untuk mencari pengalaman baru di keluar kota. Keputusan akhirnya pergi ke Pare untuk belajar bahasa Inggris. Saat itu yang terpikirkan bagiku adalah bisa belajar dengan biaya lebih murah daripada harus kuliah. Selang setahun disana banyak pengalaman merubah sikap dan karaterku. Banyak teman dari berbagai kelas sosial dan latar belakang pendidikan memberikanku semangat untuk belajar terus dan berbagi.
Menjelang penerimaan mahasiswa baru aku mencoba mendaftar SNMPTN dengan minat pendidikan bahasa, karena saat itu masih hangat-hangatnya belajar bahasa Inggris. Walaupun mendaftar belum terpikirkan bagaimana aku membiayai kuliah saat itu, dan saat itu hanya asal saja aku mendaftar. Bersamaan dengan itu, aku mendapat tawaran mengajar di sebuah institusi pendidikan dasar di Tangerang. Saat itu aku bingung, apabila aku menerima tawaran tersebut aku berarti harus melepas pendaftaran kuliah, setelah berfikir akhirnya aku putusan untuk menerima tawaran mengajar tersebut. Pada saat menjlang akan berangkat ke Tangerang tibalah juga pengumuman hasil pendaftaran tersebut. Alhamdulillah pilihanku tidak salah ternyata Allah memberikan jalan lain yakni mengambil pengalaman mengajar sebagai implementasi dari hasil belajarku saat itu.
Satu semester kemudian ada beberapa hal yang mengahruskanku untuk undur diri dari tugas mengajar tersebut. Yang pada intinya bahwa Ibu menyuruhku untuk kuliah terlebih dahulu. Kembalilah aku ke Pare. Disana tujuanku untuk belajar persiapan masuk kampus, alih-alih belajar tak disangka malah di minta mengajar beberapa mata pelajaran. Dari situ saya mulai menyiapkan materi dan memaksaku untuk belajar terlebih dahulu. Saat ujian masuk kampus manfaat dari mengajar tersebut memberikan efek yang luar biasa. Saat pengumuman aku diterima di PTN dan PTAIN dengan pilihan satu semua. Doa ibu untuk anaknya yang di suruh kuliah sangat terasa saat itu.
Akhirnya pada tahun 2012 aku masuk kuliah, tak seperti dulu yang memilih pendidikan bahasa Inggris, aku putar haluan untuk ambil jurusan Manajemen. Bahasa Inggris hanya sebagai pijakan awal bagiku untuk membeaca berbagai literasi yang menggunakan bahasa Inggris. Pada tahun 2016, genap 4 tahun pada tahun aku belajar di kampus, tidak hanya di kelas tapi di belbagai organisasi, dan bertemu dengan belbagai macam teman dengan belbagai karakterstik membuatku belajar banyak. Selain berorganisasi aku juga mencoba pengalaman bekerja mulai part time sampai yang online. Dengan belbagai kegiatan tersebut Alhamdulillah kuliah S1 telah aku selesaikan dengan tepat.
Sambil mencari pekerjaan yang sesuai aku kembali ke Pare untuk membantu mengajar kembali, meskipun jurusanku bukan pengajar, ilmu yang aku pelajari sebelum kuliah masih tetap setia menjadi pijakan pertamaku untuk mengawali tujuan selanjutnya, selang beberapa bulan setelah wisuda aku terus belajar untuk memantaskan diri mencari Beasiswa untuk lanjut S2, akan tetapi Allah lagi-lagi memberikan jalan lain melalui orang tuaku, saat menjelang tahun 2017 aku dipersilahan untuk mendaftar S2 karena ada beberapa rizeki milik saudara yang bisa di pakai. Selang beberapa minggu mempersiapkan pendaftara untuk beberapa kampus seperti UB, UGM dan UNDIP. Pada akhirnya UNDIP menjadi pilhanku melanjutkan S2. Asal tau saja saat sebelum kuliah pada tahun 2011 aku pernah membuat sebuah rencana perkuliahanku yakni di UIN Malang dan di UNDIP dan waktu S1 aku di terima di dua kampus tersebut akan tetapi aku memilih S1 di UIN, dan saat ini ternyata Allah mengambulkan kedua-duanya dan saat S2 aku bisa merasakan belajar di UNDIP juga.

Selama perjalanan tersebut meski banyak pelajaran yang bisa aku ambil, hal tersebut bukanlah untuk berpuas diri, banyak hal yang perlu dibenahi agar menjadi orang yang lebih baik dan lebih bermanfaat lagi bagi banyak orang. Berbagai hal 25 tahun yang lalu harus dimanfaatkan untuk merefleksi diri untuk meghadapi masa depan yang cerah.

0 comments: