Labels

JUMLAH PENGUNJUNG

Flag Counter
Saturday, February 7, 2015

BLUE PRINT DARI BROMO Part IV




Bromo – Nyenyak rasanya bisa tidur di kasur empuk di balut dengan selimut tebal saat berda di tempat dengan suhu yang sangat dingin. Sebelum subuh tiba kami bergegas untuk berangkat ke puncak bromo melihat indahnya sunrise. Setelah menyelesaikan masalah ban yang bocor kami langsung berangkat ke puncak. Suasana yang sangat dingit membuat kami menggigil. Di tambah dengan melewati jalan yang naik dan berliku-liku membuat kami semakin gemetaran.


Selang beberapa menit sampailah kami ke tempat tujuan. Sesampai disana kami langsung mencari tempat sholat. Kami mengambil wudlu di kamar mandi yang berbayar. Sangking dinginya saat kami mengambil air wudlu terasa menyakitkan di di tubuh. Selesailah kami sholat langsung menuju tempat melihat sunrise. Disana ternyata sudah ramai oleh wisatawan lokal maupun asing yang ingin melihat indahnya sunrise di Bromo.
Berkali kali kami berfoto untuk mendapatkan view yang indah saat di bromo. Saya pergi ke pagar batas untuk melihat bromo untuk memfoto pemandangan yang indah. Disana saya disapa oleh wisatawan asing yang memberikan arahan pengambilan foto yang bagus. Kami ngobrol dengan warga asing sambil menunggu indahnya sunrise. Lumyan untuk mengasah kemampuan bahasa inggris yang lumayan lama yang jarang saya praktekkan. Saat kami berkomunikasi dengan bahasa yang basicly masih bisa di fahami. Saat orang tersebut mulai bertanya masalah yang bersifat ilmiah seperti menjelaskan tentang bagaimana letusan gunung merapi mulailah saya kaku menjelaskannya. Dari situ mulailah saya berfikir bahwa perlu kembali lagi mempraktekkan bahasa internasional yang lama tak saya gunakan.

Selain saya banyak sahabat-sahabat yang lain juga berfoto ria bersama. Mereka juga berselfie ria bersama dengan turis-turis asing yang disana. Malahan disana orang-orang asing tersebut di ajak bercanda dengan mengajak mereka berbicara dengan bahasa madura. sedikit gokil melhata jawaban ngawur dari para orang-orang asing tersebut. Kami menghabiskan beberapa jam disana untuk mengambil gambar dengan gaya-gaya inovatif masing-masing individu.

Dirasa cukup kami melanjutkan perjalanan untuk menuju lautan pasir. Selum sampi disana kami mampir di warung untuk menyantap sarapan pagi sambil menunggu sahabat bagus mengambil sepedah motornya yang bocor. Selalu saat di pemberhentian tak lupa sahabat-sahabat mengambil moment-moment berfoto bersama di sana. Sahabat bagus datang, kami langsung melanjutkan perjalanan ke lautan pasir. Disna kami melihat keindahan yang luar biasa di dekat gunung yang beberapa sudah mati dan ada satu yang masih aktif. Perjalanan ke sana sedikit berbahaya saat melewati turunan yang sangat curam. Sampai motor saya sendiri bling rem depanya karena tak mampu menahan lamanya mengerem. Tapi alhamdulillah kami selamat sampai lautan pasir tersebut.

0 comments: