Labels

JUMLAH PENGUNJUNG

Flag Counter
Monday, February 2, 2015

BLUE PRINT DARI BROMO Part II




Malang - Planning berangkat ke bromo sudah deal. Persiapan sudah di beli pagi harinya sebelum sorennya melakukan perjalanan ke daerah Suku Tengger tersebut. Jadwalnya pada tanggal 28 januari 2015, tepatnya jam 2 siang kita berangkat. Akan tetapi persemasalahan seperti biasanya yakni kemoloran waktu yang berkepanjangan.

Awalnya memang informasinya sahabat-sahabat di kumpulkan jam 2 siang untuk mengantisipasi kemoloran paling tidak jam 3 sudah berkumpul di Rayon dahulu. Tetapi memang hal tersebut tak bisa di hindari kemoloran pun sampai jam 3 lebih karane mereka sudah berfikir bakal molor dan menunggu sholat ashar dahulu. Meskipun seperti itu pada akhirnya sampai jam 4 pun masih belum berangkat. Banyak kendala mulai mencari helm, menunggu yang lain selesai makan, sampai menunggu beberapa sahabat yang mau ikut namun susah di hubungi.

Namun hal-hal tersebut sangking terbiasanya sampai seperti bukan suatu masalah yang signifikan bagi kita. Akhirnya kami bisa berangkat jam 04.30 Mp. Di awali dengan foto bersama di depan rayon dahulu barulah berangkat. Perjalanan kami mengambil jalur lewat pasuruan sekaligus menunggu sahabat Muhyidin yang rumahnya disana. Saat maghrib tiba kami tepat sampai di Pasuruan jadi sambil menunggu kami sholat di Masjid daerah Pasuruan tersebut.

Selang beberapa menit Sahabat Muhyidin datang. Kami langsung melanjutkan perjalanan ke Bromo lewat jalur pasuruan yang sangat sepi. Waktu masuk jalur tersebut kami di ingatkan oleh warga untuk selalu bersama rombongan jangan sampai ada yang tertinggal karenadi khawatirkan rawan oleh kejahatan. Jalan berliku dan menanjak kami lewati. Yang menjadi ke khawatiranku adalah sepdah motorku sendiri karena hanya motorku yang matic ada boncenganya. Ada satu matic lagi yang di pakai sahabat Bagus tetapi sendirian. Tetapi Alhamdulillah  waktu melewati jalan yang berliku dan menanjak kendaraan tersebut mampu melewatinya.

Beberapa jam kemudian kita sampai di gerbang masuk Wisata Bromo tersebut. Akan tetapi ternyata kami masih dilarang untuk masuk. Bebarapa warga disana sedikit usil jadi calo agar sahabat-sahabat semua mau membeli pelayanan yang di tawarkannya. Mulai dari makanan sampai peninapan, toilet dan parkir. Hampir saja kami terpancing untuk membayar semua ke Dia. Mulai dari toilet yang sebenarnya milik orang lain, pas yang punya datang kami kebingungan karena kami sudah membayar di pemuda daerah tersebut tetapi ternyata bukan yang punya. Tetapi kami tidak mau membayar untuk kedu kalinya. Dari situ kami berhati-hati.
Ada hal menarik yang kami temui. Mungkin agak lucu bagi kita waktu disana. Kami belum menyadari bahwa warga disana rata-rata beragama Hndu. Saat kami belum sholat Isya’, saya berinisiatif untuk bertanya mushola atau masjid. Ternyata jawaban mereka tak seperti yang kami harapkan. Mereka menjawab bahwa tidah ada mushola atau masjid disini. Itupun belum cukup saya sadari, akhirnya saya tanya kalau sholat kiblat menghadap kemana?. Eh ternyata orangnya kebingungan, mungkin orangnya tidak tau sholat itu apa.

Akhirnya saya dan bebrapa sahabat yang belum sholat mebuka selimut di parkiran untuk di jadikan alas Sholat. Rasanya luar biasa bisa sholat di lingkungan yang tidak mengenal ibadahnya umat Islam. Rasanya menyenangkan bisa sholat di tempat lapang dan terbuka. Dan terasa tenang sekali bisa menunaikan kewajibanNya.

0 comments: